Qurban dalam Perspektif Al-Qur’an: Sejarah, Makna Spiritual, dan Praktik di Masa Kini

Qurban adalah ibadah yang mengajarkan ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Kisahnya berawal dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Dengan penuh keimanan, keduanya tunduk pada perintah Allah, hingga akhirnya Allah menggantinya dengan hewan sembelihan sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 107)

Dari kisah ini, kita belajar bahwa qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi tentang pengorbanan dan ketaatan total kepada Allah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

“Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)

Di masa kini, qurban memiliki makna yang semakin luas. Ia bukan hanya ibadah personal, tetapi juga bentuk kepedulian sosial. Banyak saudara kita, terutama anak yatim dan dhuafa, yang merasakan kebahagiaan dari daging qurban yang kita bagikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Idul Adha yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan qurban.” (HR. Tirmidzi)

Di Sampang, semangat berbagi ini bisa kita wujudkan dengan menyalurkan qurban ke Panti Asuhan Al-Misykah Sampang, tempat anak-anak yatim dan dhuafa dibina dengan penuh kasih sayang.

Mari jadikan qurban lebih bermakna.
Tidak hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai jalan berbagi kebahagiaan.

👉 Ayo qurban dan salurkan rezeki terbaik Anda untuk Panti Asuhan Al-Misykah Sampang
👉 Hadirkan senyum dan harapan bagi mereka yang membutuhkan

Karena sejatinya, qurban bukan hanya tentang apa yang kita berikan, tetapi tentang seberapa besar kepedulian yang kita tanamkan.